TRENDING

Diskusi Publik ‘Tugas Mendesak’: Mahasiswa Soroti Pemberian Gelar Pahlawan untuk Soeharto

2 menit membaca View : 86
REDAKSI EKSEKUTIF
News Redaksi, Sosial - 13 Nov 2025

Jakarta — Sejumlah organisasi mahasiswa UIN Jakarta menggelar diskusi publik bertajuk “Tugas Mendesak: Pasca Pemberian Gelar Pahlawan Soeharto” di Digra Coffee, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (13/11/2025). Kegiatan ini diinisiasi oleh Front Mahasiswa Nasional (FMN), GMNI, dan Hima Persis UIN Jakarta.

banner 970x250

Diskusi yang berlangsung terbuka untuk umum itu menghadirkan dua narasumber, yakni Garda Maharsi, dosen dan peneliti, serta Ray Rangkuti, aktivis reformasi sekaligus pendiri Lingkar Madani (LIMA).

Dalam pemaparannya, Garda Maharsi menilai bahwa pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional merupakan bentuk penghinaan terhadap nalar publik. Ia menyinggung pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu dan belum pernah benar-benar dituntaskan secara hukum.

“Kita sedang menyaksikan penghinaan terhadap nalar publik. Luka sejarah belum sembuh, tapi bangsa ini justru dipaksa menerima Soeharto sebagai pahlawan,” ujar Garda.

Garda juga menyerukan agar mahasiswa dan publik menjaga daya kritis terhadap upaya pelemahan kesadaran sejarah. Menurutnya, generasi muda tidak boleh tunduk pada narasi kekuasaan yang berusaha menormalkan praktik otoritarianisme masa lalu.

Sementara itu, Ray Rangkuti menekankan pentingnya menjaga regenerasi kepemimpinan bangsa agar lahir dari proses demokrasi yang sehat, bukan dari sistem politik dinasti. Ia juga menyoroti stagnasi penegakan hukum dan ketimpangan ekonomi yang masih terjadi di berbagai daerah.

“Pertumbuhan ekonomi 7 persen itu hanya terasa di kota besar. Di Papua, Kalimantan, dan Sumatra, rakyat belum sejahtera. Semua kebijakan masih berpihak pada korporasi,” tegas Ray.

Menurut Ray, semangat reformasi harus terus dijaga dengan memastikan lahirnya pemimpin dari setiap jenjang pemerintahan, mulai dari walikota, gubernur, hingga presiden, bukan dari hasil penunjukan politik yang elitis.

Diskusi ini ditutup dengan seruan agar mahasiswa dan masyarakat terus menjaga nalar publik serta memperjuangkan penegakan keadilan sejarah.

“Yang harus dijaga hari ini bukan hanya ingatan, tapi keberanian berpikir jernih di tengah tekanan kekuasaan,” kata Garda menutup sesi diskusi.

Acara yang berlangsung selama tiga jam ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang kampus dan komunitas.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS